Khairunnaas anfa'ahum linnaas
Alhamdulillah, lama tak bersua mengutak-atik blog ini. Maklum, karena internet di Indonesia tak secepat di Swedia yang berkecepatan 10 mbps sedikit banyak membuat saya malas ke warnet. Namun pada akhirnya, kerinduan bersilaturrahiim-lah yang menggerakkan langkah bergegas untuk ke warnet membuka-buka lembaran imel demi imel yang lama terbengkalai.
Akhir-akhir ini saya benar-benar sibuk sehingga jadwal penelitian thesis harus di-reschedule ke akhir Agustus dan begitu juga penerbangan balik ke Swedia, yang mulanya tanggal 26 Agustus harus diundur menjadi 6 September. Kesibukan di LSM LBKHI (Lembaga Bina Kesadaran Hukum Indonesia) membuat waktu terasa menguap dengan begitu cepat bak spiritus yang dijemur di bawa terik matahari langsung. Berbagai kegiatan peyuluhan hukum di desa-desa KKN (Kuliah Kerja Nyata), English Discussion Forum bersama anak-anak FHUGM 2004 dan LBKHI, serta menjadi trainer HAM di beberapa LSM dilakoni, walaupun mobilitas terbatas hanya mengandalkan sepeda ontel tua keluaran "Phoenix" dari Cina. Namun akhir-akhir saya bertanya-tanya, apakah pekerjaan yang saya lakukan sia-siakah? Bermaknakah? Dan makna apalagi kalau bukan keridloan dari Allahu 'azza wa jalla.
* * *
"Khairunnaas anfa'ahum linnaas", sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat buat sesamanya. Sebuah sabda yang indah dan mendalam dari Kanjeng Nabi. Apalagi jika dikaitkan dengan pembuka dialog antara Allah SWT dengan malaikat, "Innii jaa'iln fil ardli khaliifah", sesungguhnya aku hendak menjadikan di muka bumi ini seorang khalifah, Firman Tuhan kepada Malaikat-Nya. Kerangka "kemanfaatan" yang dimaksud adalah aktualisasi manusia sebagai wakil Tuhan di muka bumi (khaliifah fil ardli) untuk menjadikan Islam sebagai rahmat seluruh alam (rahmatan lil'aalamiin), yaitu dengan berbuat kemaslahatan. Kemaslahatan apalagi jika bukan kemaslahatan buat orang banyak. Dan hal tersebut harus dilandasi oleh dua, yaitu:
1. Niat lillahi ta'aala, karena semua perbuatan bermuara dari niat (innamal a'maalu bin niyaat) sehingga wajar sebelum melakukan perbuatan baik, disarankan "mensimbolkan" atau "mematerialisasikan" niat dengan lafazh basmalah.
2. Ilmu, sebab menjadi khalifah membutuhkan kualitas keilmuan. Dalam dialog antara Allah yang Maha Agung dengan Malaikat seperti yang saya kutip di atas , dilanjutkan dengan protes Malaikat bahwa manusia senang menumpahkan darah dan berbuat kerusakan di muka bumi (Ataj'alu fiihaa may yufsidu fiihaa wa yasfikud dimaa-a). Lalu Allah menjelaskan walaupun sedemikian paradoksialnya, namun manusia memiliki kualitas keilmuan dan harta dalam bentuk akal yang disimbolkan dengan kata "al-asmaa" (Wa 'allama Adaamal asmaaha kullahaa).
* * *
Semoga apa yang kita lakukan mendapatkan ridla dari Allah dengan belas kasihan-Nya sehingga hari-hari yang kita arungi-detik demi detik yang kita lalui jauh dari kehampaan dan kekosongan jiwa.....Wallahu a'lam bishshawab.


